Ketika Antara mendatangi lokasi pada Sabtu
(6/11/2010) siang, dan menyaksikan hulu sungai itu dari jarak 5 meter,
Suwarjo berteriak untuk memperingatkan bahwa material itu masih
mengandung bara. Bagi orang luar, bukan penduduk Cangkringan, fenomena
sungai Gendol itu mencengangkan. Tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa
di bawah ribuan ton lahar itu ada sebuah sungai sedalam jurang. Aroma
belerang yang menyengat tercium di kawasan berbahaya ini.

Lihatlah saat semua tumbuhan layu terkena panas awan panas wedus gembel, padi itu tetap bersemi hijau
Di
sekitar hulu sungai terdapat perkampungan penduduk yang sudah
mengungsi. Atap rumah-rumah dan daun-daun pepohonan besar tertutupi abu
dan pasir. Kebun salak luluh lantak, porak-poranda. Cangkringan menjadi
kawasan mati, dengan kerusakan yang masif. Kawasan lereng Merapi yang
mengalami kehancuran di mana-mana terjadi di Desa Glagaharjo.
Sepanjang jalan menuju puncak Merapi, pohon-pohon bertumbangan. Tiang
listrik dari beton patah. Tiang besi telepon pun roboh, membuat saluran
kabel-kabelnya terburai.
Secara ilmiah bisa dijelaskan saat awan panas menerpa benih padi tadi belum bersemi, dan beberapa saat kemudian setelah semua usai padi bersemi dengan subur karena abu vulkanik sangat baikdan subur bagi tumbuh-tumbuhan .
Sejumlah
rumah penduduk tampak berantakan. “Hujan pasir campur lahar membuat
semuanya seperti ini,” kata seorang penduduk setempat yang sedang
menengok rumahnya.
Nuansa Magis
Pemandangan di Cangkringan yang mengalami kerusakan di mana-mana itu terasa magis. Semua pohon besar bisa tumbang atau dahan-dahannya patah. Daun-daun pohon kelapa lunglai berwarna cokelat kusam setelah tertimpa hujan pasir dan lahar. Perkebunan salak morat-marit. Tanaman jagung hanya tinggal onggokan kusam di pematang. Namun, hamparan padi yang baru disemai, yang baru setinggi 10 senti meter, sama sekali utuh dengan warna kehijauan yang menyegarkan. “Aneh bin ajaib. Pohon besar bertumbangan. Padi yang baru tumbuh itu seperti tak tersentuh lahar Merapi,” komentar seorang yang mengantar Antara memasuki wilayah maut itu.
Nuansa Magis
Pemandangan di Cangkringan yang mengalami kerusakan di mana-mana itu terasa magis. Semua pohon besar bisa tumbang atau dahan-dahannya patah. Daun-daun pohon kelapa lunglai berwarna cokelat kusam setelah tertimpa hujan pasir dan lahar. Perkebunan salak morat-marit. Tanaman jagung hanya tinggal onggokan kusam di pematang. Namun, hamparan padi yang baru disemai, yang baru setinggi 10 senti meter, sama sekali utuh dengan warna kehijauan yang menyegarkan. “Aneh bin ajaib. Pohon besar bertumbangan. Padi yang baru tumbuh itu seperti tak tersentuh lahar Merapi,” komentar seorang yang mengantar Antara memasuki wilayah maut itu.
Pengamatan lapangan di Glagaharjo itu tak berlangsung lama
karena seorang relawan yang datang mengingatkan untuk segera menjauh
dari puncak Merapi. Suara hujan angin disertai gelegak seperti air
mendidih, yang datang dari perut Merapi itu, semakin menyadarkan bahwa
Merapi bisa muntah sewaktu-waktu. Aktivis-relawan penolong korban
Merapi itu seperti mulai mengenal tabiat Merapi. Dia segera menarik
pegas motornya dan melaju menjauh dari puncak Merapi. Dia tak mau
berpacu melawan kecepatan lahar Merapi yang oleh pakar geologi
diibaratkan sekencang mobil Formula Satu itu




Tidak ada komentar:
Posting Komentar