Kamis, 30 September 2010

Fenomena Alam : Video Semburan Pasir Di Arab !! Liat Videonya GAn !!

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSYJnw9Hx767RG5EOI8o4qFbakUEWtNMxzS82aRAsTTyGO9dbnMsMNurA0Cy4cqQk-AeJ9RqxKjtYDTnN2wbwGchOXKqtiKu56tJY4okMQaPlhfzGGVAJEOgJ6lcQhrIgK55kVdGHe_60/s1600/dd5.jpg

Fenomena Alam sering kali terjadi belakangan ini, kali ini terjadi semburan pasir di Arab, semburan pasir ini terletak di kota Al-Ahsae, bagian timur Arab Saudi. Menurut informasi semburan pasir di Arab tersebut mencapai ketinggian 9 meter. Fenomena lam ini menimbulkan banyak perdebatan dari berbagai kalangan di forum – forum di Luar negeri.

Adanya semburan pasir di arab ini memunculkan berbagai tanggapan dan dugaan bahwa terjadinya semburan pasir di arab tersebut di sebabkan oleh adanya kebocoran pipa gas sehingga meletup dan mengangkat pasir dengan semburan yang dahsyat.

Jika di lihat dari lokasi semburan pasir di Arab tersebut memang berada di wilayah atau area kilang minyak sehingga dugaan adanya kebocoran pipa gas bisa saja terjadi. Terlepas dari berbagai dugaan bahwa semburan pasir di arab itu fenomina alam atau tidak kita tidak bisa memastikan karena saya juga gak punya duit mau kesana , hehehe


Permukaan Bumi Semakin Bergerak ke Utara


Saat Anda membaca artikel ini, permukaan bumi di bawah Anda bergerak secara perlahan-lahan menuju ke kutub utara. Menurut sejumlah ilmuwan, pergeseran ini lebih besar dibandingkan dengan yang mereka perkirakan. Akan tetapi, di luar efek minor pada satelit, tidak ada efek signifikan yang akan terasa.

Peneliti menemukan, pergeseran massa air di seluruh dunia, dikombinasikan dengan apa yang disebut dengan post-glacial rebound, telah menggeser permukaan bumi dari pusatnya sebanyak 0,035 inci atau 0,88 milimeter per tahun ke arah kutub utara.

Post-glacial rebound merupakan efek balik dari permukaan padat bumi terhadap berkurangnya gletser dan hilangnya beban berat. Dengan berkurangnya gletser pada akhir jaman es, tanah di bawah es mulai naik dan terus naik. Untuk itu, seperti sudah diperkirakan, lapisan padat di permukaan akan bergerak ke utara sebagai efek dari pusat massa planet.

Saat menghitung perubahan ini, para ilmuwan mengombinasikan data gravitasi dari NASA dan satelit German Aerospace Center Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) yang mengukur pergerakan permukaan bumi lewat GPS dan model yang dikembangkan oleh Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA yang memperkirakan massa samudra di atas setiap titik di dasar samudera.

http://www.romanianmonasteries.org/images/maramures/geography/Maramures-Geography1.jpg

Xiaoping Wu, peneliti JPL di Pasadena, California memperkirakan, penyebab utama pergeseran permukaan bumi adalah karena melelehnya lapisan es Laurentide, yang menyelimuti sebagian besar Kanada dan bagian utara Amerika Serikat di jaman es lalu.
“Temuan baru ini ternyata jauh lebih besar dibandingkan perkiraan terdahulu yang hanya 0,019 inci atau 0,48 milimeter per tahun,” kata Wu, seperti dikutip dari Livescience, 28 September 2010.

Meski demikian, Wu menyebutkan, pergerakan permukaan ke arah atas tidak akan mempengaruhi kehidupan di bumi. “Pergeseran itu kurang dari satu milimeter per tahun, jadi tidak berpengaruh,” kata Wu. “Beda halnya jika pergeseran mencapai 1 sentimeter. Itu akan menghadirkan perubahan yang signifikan,” ucapnya.

Walaupun pergerakan lempeng tidak mempengaruhi kehidupan manusia sehari-hari, pergeseran ini akan berpengaruh pada pelacakan satelit dan pesawat luar angkasa. “Seatelit di orbit di mencatat informasi dari luar angkasa dan berkorespondensi dengan instrumen yang ada di permukaan bumi,” kata Wu. “Pergerakan ini akan berpengaruh pada bagaimana kita melacak pesawat atau satelit tersebut,” ucapnya.

Laporan terbaru seputar pergeseran permukaan bumi tersebut dibuat oleh para peneliti dari JPL, Delft University of Technology di Belanda, serta Netherlands Institute for Space Research. Hasilnya dipublikasikan pada jurnal Nature Geoscience edisi bulan ini.(vivanews.com)