Pelaku
percobaan pembunuhan terhadap Pangeran Mohammed bin Nayef dari Arab
Saudi menyembunyikan bomnya di celana dalam. Pelaku tampaknya yakin
lolos karena secara kultur, bagian tubuh yang tertutup celana dalam tabu
disentuh pemeriksa.
Pihak berwenang Arab Saudi yang terlibat dalam penyelidikan percobaan
pembunuhan pada Agustus itu, sebagaimana dilaporkan CNN, Kamis,
mengungkapkan hal tersebut. Pangeran Nayef, Kepala Anti-Terorisme Arab
Saudi, hanya menderita luka kecil akibat ledakan bom itu.
Sejumlah laporan media lokal minggu ini menyatakan, si penyerang
menyembunyikan bom di dalam rektumnya (saluran usus besar yang berujung
ke dubur). Namun, menurut pejabat Saudi, hal itu tidak mungkin karena,
berdasarkan sejumlah faktor, antara lain, ada kilatan cahaya ketika bom
meledak. Hal itu menunjukkan bahwa bom tidak disembunyikan di dalam
tubuh si pelaku. Selain itu, para dokter yang diminta pendapatnya oleh
pemerintah mengatakan, tingkat keracunan plastik bahan peledak akan
menyulitkan pelaku membawa bom dalam waktu lama di dalam rektum.
Pihak Saudi mengatakan, mereka menduga bom itu seberat 100 gram dan
dibuat dengan plastik bahan peledak agar bisa lolos dari metal detektor
pada pemeriksaan sebelum si pelaku diizinkan bertemu dengan Sang
Pangeran. Pihak berwenang mengungkapkan, bahan peledak yang digunakan
adalah PETN, sama seperti yang pernah dipakai Richard Reid pada
sepatunya ketika mencoba meledakkan pesawat American Airlines dalam
penerbangan Paris-Miami pada Desember 2001.
Pihak Saudi sekarang sedang menyelidiki kemungkinan si penyerang
meledakkan bom dengan sebuah detonator yang bersumbu kimia yang tidak
dapat dideteksi metal detektor.
Pelaku yang diindetifikasi sebagai Abdullah Hassan al Asiri adalah
warga Saudi. Ia anggota Al Qaeda yang melarikan diri ke Yaman dan ingin
menyerahkan diri kepada Pangeran Nayef. Sang Pangeran bertanggung jawab
untuk mengawasi program rehabilitasi teroris kerajaan, dan sekitar dua
lusin anggota penting Al Qaeda sebelumnya telah menyerahkan diri
kepadanya.
Pada bulan Ramadhan, Al Asiri mendapat kesempatan beraudiensi dengan
Sang Pangeran di kediaman pribadinya di Jeddah. Asiri memperkenalkan
diri sebagai seseorang yang juga dapat mengajak anggota militan lainnya
menyerahkan diri. Dengan berpura-pura bahwa dia bisa mengajak anggota
militan yang lain menyerahkan diri, Asiri pun melakukan panggilan
telepon singkat kepada anggota Al Qaeda lain di hadapan Nayef. Ia
memberitahukan bahwa dirinya sedang berdiri di depan Pangeran Nayef.
Seusai melakukan panggilan telepon, bom meledak. Asiri tewas, tetapi
Nayef yang berdiri hanya beberapa kaki dari Asiri hanya menderita luka
kecil.
Sumber Kompas.com




Tidak ada komentar:
Posting Komentar